Perbedaan Simpati dan Empati, Lebih Baik yang Mana?

Anda pasti sering mendengar kata simpati dan empati. Meski sama-sama penting di dalam interaksi sosial, tetapi perbedaan simpati dan empati cukup signifikan. 

Simpati dan empati menunjukkan kondisi yang berhubungan dengan keadaan, pikiran, atau perasaan orang lain. Maka dari itu, saat orang terdekat sedang menceritakan kesedihannya, Anda perlu menunjukkan simpati atau bahkan empati. 

Pengertian Simpati   

Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa simpati adalah rasa kasih dan keikutsertaan merasakan perasaan (senang, susah, dan sebagainya) orang lain.  

Emosi ini melibatkan penilaian pada pengalaman orang tersebut. Meski bermaksud baik, tetapi respons yang berpusat pada penilaian nilai ini kerap kali menciptakan jarak yang jelas antara orang yang bercerita dan orang yang mendengarkannya.  

Sederhananya, simpati merupakan reaksi terhadap suatu situasi tanpa pemahaman sepenuhnya. Ketika seseorang bersimpati, maka orang itu sebenarnya terjebak di dalam reaksi emosionalnya sendiri tanpa memahami tekanan yang dialami orang yang sedang bercerita.  

Oleh karena itu, simpati sering kali muncul saat si pendengar tidak sepenuhnya mengenal orang yang menceritakan kondisinya.  

Simpati dapat menghalangi pemahaman yang mendalam, karena orang yang bersimpati dapat mengalihkan fokusnya dari orang yang sedang tertekan kepada dirinya sendiri.    

Contoh bentuk simpati antara lain: 

  • Kasihan: “Ya ampun, sedih banget.” 
  • Kasihan sekaligus iri hati: “Turut berdukacita, yah. Setidaknya kamu punya waktu yang cukup lama dengannya semasa hidup, tidak sepertiku.” 

Pengertian Empati  

Sementara empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.   

Ketika seseorang mengungkapkan empati, maka ia menggunakan pengalaman pribadinya untuk berhubungan dengan orang lain dengan kesulitan serupa. 

Empati merupakan kemampuan untuk merasakan kondisi dan melihatnya dari sudut pandang orang lain, bukan hanya untuk memahami kondisi orang itu, tetapi juga mampu memposisikan dirinya di posisi orang tersebut.  

Empati terbaik ditentukan oleh bagaimana pendengar terhubung dengan orang yang menceritakan kesedihannya. Tanpa menghakimi, orang yang berempati akan berusaha untuk menciptakan dan mempertahankan ruang untuk perasaan dan pengalaman orang yang sedang ia dengarkan.  

Selama Anda mau menghargai dan melihat kondisi dari sudut pandang orang yang lain, maka empati Anda dapat diasah dari waktu ke waktu.   

Contoh bentuk empati: “Turut berdukacita, yah. Dulu aku juga merasakan beratnya ditinggal ayah. Namun, aku yakin kamu akan kuat menghadapinya. Kalau butuh ditemani, kabari saja, yah.”         

Perbedaan Simpati dan Empati   

Simpati dan empati dibedakan oleh aspek perilaku dan performatif eksternal, sehingga melibatkan pengalaman si pendengar dan hubungannya dengan orang yang sedang menceritakan kondisinya. 

Simpati tidak membutuhkan hubungan yang dekat antara si pendengar dan orang yang sedang menderita. Contohnya: ucapan belasungkawa sekali saja, tanpa tindak lanjut.  

Oleh karena itu, simpati umum digunakan di dalam interaksi sosial tanpa hubungan yang dekat antara dua orang. Simpati ini cocok untuk diterapkan di perusahaan. Anda mungkin tak ingin terlalu dalam terlibat di dalam kesedihan rekan kerja atau bos, karena harus kembali bergelut dengan pekerjaan Anda. 

Ketika ada rekan kerja atau bos yang sedang berdukacita, maka Anda cukup memberikan bunga belasungkawa atau bahkan sekadar pesan singkat berupa ucapan belasungkawa. Jika Anda melakukan yang lebih dari itu, bisa saja Anda malah dianggap sebagai tindakan ‘cari muka’, yang tentunya tidak baik untuk citra Anda.     

Lain halnya dengan empati yang kerap kali membutuhkan hubungan yang dekat antara si pendengar dan orang yang sedang menderita. Ketika rekan kerja yang cukup dekat sedang berdukacita, maka akan sangat aneh jika Anda hanya mengirimkan pesan dengan ucapan belasungkawa, bukan? Setelah mengirim pesan tersebut, Anda mungkin akan turut membantunya mempersiapkan acara kedukaan dan menemaninya ketika menangis tersedu-sedu.   

Meski begitu, dosen psikologi dari Pepperdine University, Steven M. Sultanoff, Ph.D., menyatakan empati tidak hanya bisa terbentuk dari hubungan yang dekat, tetapi juga bisa dibentuk dari pengalaman pribadi yang serupa, kepedulian yang sungguh-sungguh, dan teknik active listening

Tak sedikit orang yang keliru tentang empati. Mereka mengira empati berarti memberikan solusi untuk orang yang sedang tertekan agar ia berhenti menderita. Padahal empati tidak harus demikian, melainkan cukup memahami kondisi orang tersebut sepenuhnya. Terkadang orang yang sedang tertekan tidak butuh solusi, tetapi hanya butuh teman sepenanggungan, kecuali jika ia secara terang-terangan menanyakan solusi. 

Cara Menumbuhkan Empati 

Lantas, bagaimana cara untuk menumbuhkan empati? Empati terdiri dari 3 tahapan. Nah, untuk menumbuhkannya, Anda perlu melalui 3 tahapan tersebut:  

1. Empati kognitif: membayangkan Anda berada di dalam kondisi yang sedang diceritakan.   

2. Empati emosional: berdiri sejajar dengan orang yang sedang menceritakan masalahnya agar dapat turut merasakan penderitaannya.  

3. Tindakan empati: alih-alih menawarkan solusi, tindakan empati berarti duduk diam dan mendengarkan tanpa menghakimi atau berusaha memberikan solusi.  

Setelah rutin melakukan 3 hal di atas, maka empati akan terbentuk, sehingga Anda bisa benar-benar memahami kondisi orang lain.    

Kesimpulan Perbedaan Simpati dan Empati

Simpati merupakan emosi yang diarahkan secara internal, sedangkan empati merupakan emosi internal yang diarahkan ke luar kepada orang yang sedang menderita. 

Sebagai contoh, saat melihat orang yang sedang berduka, empati berfokus untuk memahami kesakitan yang dirasakan orang tersebut. Sementara simpati berfokus pada reaksi saat melihat orang itu mengatasi rasa sakitnya. 

Steven M. Sultanoff mengatakan bahwa dari perspektif kesehatan mental, empati sangat menyembuhkan dan simpati tidak. Hal ini dikarenakan penerima empati merasakan koneksi dan ketulusan dari orang lain, sedangkan penerima simpati tidak. 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa empati lebih baik daripada simpati. Namun, sebaiknya sesuaikan dengan kondisi yang terjadi sebelum menunjukkan simpati atau empati Anda.    

id_ID
Open chat
Konsultasikan Kebutuhan ERP disini