Cara Membuat Laporan Mutasi Barang

Di perusahaan dagang, arus keluar masuk barang merupakan aspek yang harus dicatat di dalam laporan mutasi barang. Laporan ini dibutuhkan untuk mengetahui informasi persediaan barang dan menganalisis perputaran persediaan barang (inventory turnover ratio). 

Melalui analisis itu, Anda dapat menentukan barang apa saja yang perlu dipesan ulang beserta jumlahnya dan barang apa saja yang tak perlu dipesan lagi. Hal ini berpengaruh pada kelancaran penjualan. 

Pengertian Mutasi Barang 

Mutasi barang atau mutasi stok adalah perpindahan barang dari tempat penyimpanan satu ke tempat penyimpanan lain. Perpindahan ini meliputi mutasi barang dari gudang ke gudang, gudang ke toko, dan gudang langsung ke pembeli. Ketika terjadi mutasi, maka persediaan di gudang akan berkurang.  

Manfaat Laporan Mutasi Barang 

Laporan mutasi barang menampilkan informasi dari proses inbound, outbound, dan storage. Selain untuk mengetahui jumlah barang yang tersedia, laporan mutasi ini juga memberikan sejumlah manfaat lain, yaitu: 

  1. Membandingkan dan mencocokkan jumlah barang di gudang dengan jumlah barang di catatan pembukuan.  
  2. Meminimalkan berbagai risiko penyimpanan atas persediaan barang yang diakibatkan oleh kelalaian staf gudang. 
  3. Membandingkan jumlah persediaan pada tahun sebelumnya dengan tahun ini untuk menganalisis perkembangan bisnis.
  4. Mempercepat proses pengambilan keputusan saat ada barang yang rusak atau hilang. 
  5. Mengetahui arus kas masuk dan arus kas keluar atas persediaan barang dagangan.   

Cara Membuat Laporan Mutasi Barang  

Jika jumlah persediaan masih sedikit dan tidak terlalu bervariasi, maka laporan mutasi masih bisa dibuat secara manual. Namun, jika jumlah dan variasinya sudah sangat banyak, maka sebaiknya gunakan software inventory untuk meminimalkan kekeliruan akibat human error

Pada dasarnya laporan ini memuat komponen berikut: 

  • Kode barang.
  • Nama barang.   
  • Stok awal: jumlah persediaan awal di satu periode. 
  • Stok keluar: jumlah persediaan yang terjual di periode itu. 
  • Stok masuk: jumlah persediaan yang dibeli di periode itu. 
  • Stok akhir: jumlah stok awal + stok masuk – stok keluar. 
  • Saldo awal: nilai persediaan awal (Rupiah). 
  • Nilai masuk: nilai persediaan yang dibeli (Rupiah). 
  • Nilai keluar: nilai persediaan yang terjual (Rupiah). 
  • Saldo akhir: nilai dari saldo awal + nilai masuk – nilai keluar. 

Pencatatan Persediaan di Neraca  

Di dalam neraca, persediaan masuk ke dalam kolom aktiva. Nilai persediaan di laporan mutasi dan neraca bisa saja berbeda jika ada transaksi barang konsinyasi.  

Dengan skema konsinyasi, pemilik barang akan menitipkan barangnya ke suatu toko untuk dipasarkan dan dijual. Saat ada barangnya yang terjual, maka pemilik barang akan memberikan komisi kepada pihak toko. 

Barang yang didapatkan dengan skema konsinyasi akan menambah jumlah stok, tetapi tidak akan mempengaruhi nilai masuk persediaan. Di dalam perhitungan inilah sering terjadi kekeliruan. 

Nah, untuk menghindari kekeliruan itu, gunakan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) iDempiere yang dapat mengotomatisasi pencatatan secara rinci, akurat, dan terintegrasi dengan kegiatan operasional lainnya.    

ERP iDempiere juga bisa dikustomisasi sesuai kebutuhan, sehingga bisa menjadi ERP yang membantu sistem konsinyasi yang sesuai dengan keunikan proses bisnis Anda.   

Kesimpulan  

Laporan mutasi barang perlu dibuat untuk mengetahui jumlah barang yang siap untuk dijual dan menganalisis perkembangan bisnis. Gunakan ERP iDempiere untuk membuat laporan mutasi dan memasukkan nilai persediaan ke neraca dengan akurat dan jelas. Hubungi Kosta Consulting di nomor 0821-2228-2266 untuk informasi tentang implementasi ERP iDempiere. 

id_ID
Open chat
Konsultasikan Kebutuhan ERP disini